tidak menentang kehendak pencipta

Pilihan Cerdas

Minggu, 10 Juli 2011

Antara Monumentalis dan Sekularisasi Di Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta



Dulu ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, saya pernah memainkan permainan tebak kata dengan teman sebaya saya. Salah satu pertanyaan dari tebak kata tersebut adalah, “Apakah bahasa arab dari lapangan yang besar?”. Tentu ketika saya masih kecil membenarkan jawabanya adalah Alun-alun. Kami tidak peduli apakah benar Alun-alun berasal dari bahasa arab atau hanya lelucon. Kemiripan pengucapan kata Alun-alun dengan logat ke-arab-an dari salah satu teman kami bernama Joko membenarkan persepsi kami waktu kecil. Persepsi pribadi saya tentang kata Alun-alun merupakan warisan kata dari generasi sebelum kami ada, dari bapak-bapak kami. Begitu juga dengan Alun-alun secara realita ada merupakan warisan arsitektur dari jaman sebelum penjajahan hingga sekarang.

Di dalam buku “Encyclopedie van Nederlandsch Indie” (Paulus, 1917:31), terdapat penjelasan tentang ‘Alun-alun’ sebagai berikut:
“Di hampir setiap tempat kediaman Bupati, seorang kepala distrik di Jawa, orang selalu menjumpai adanya sebuah lapangan rumput yang luas, yang dikelilngi oleh pohon beringin di tengahnya. Lapangan inilah yang dinamakan ‘Alun-alun’. Di kota-kota bekas kerajaan kuno (seperti Surakarta dan Yogyakarta), mempunyai dua buah ’Alun-alun’, sebuah terletak di Utara Kraton dan sebuah lagi terletak disebelah Selatan Kraton. Di permukaan Alun-alun tersebut tidak boleh ada rumput tumbuh dan diatasnya ditutup dengan pasir halus. Di bagian Selatan dari Alun-alun tersebut terdapat pintu masuk yang menuju ketempat kediaman Raja atau Bupati, dimana disana berdiri sebuah pendopo. Pegawai negeri atau orang-orang lain yang ingin bertemu dengan raja atau Bupati menunggu waktunya disana untuk dipanggil, jika Raja merestui untuk menerima kedatangan mereka. Oleh sebab itu pendopo tersebut kadang-kadang dinamakan juga Paseban (asal kata seba). Pada masa lampau di Alun-alun tiap hari Sabtu atau Senin (Seton atau Senenan) diadakan permainan Sodoran (pertandingan diatas kuda dengan menggunakan tombak yang ujungnya tumpul), atau pertandingan macan secara beramai-ramai yang dinamakan ‘rampog macan’. Pada waktu pertunjukan ini raja duduk di Siti Inggil, tempat yang paling tinggi dimuka pintu Kraton. Pada tempat-tempat Bupati terdapat panggung untuk melihat tontonan tersebut. Di Jawa Barat juga terdapat Alun-alun kecil di depan rumah kepala desa, tapi Alun-alun tersebut tidak dikelilingi oleh pohon beringin. Mesjid seringkali terdapat disebelah Barat dari Alun-alun”
(Mengutip tulisan di dalam jurnal Handinoto (Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra) yang berjudul “ALUN-ALUN SEBAGAI IDENTITAS KOTA JAWA, DULU DAN SEKARANG”.)

Pada jaman sebelum penjajahan Belanda, Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta atau Surakarta adalah tempat yang disakralkan. Dimana masuk dalam wilayah keraton yang dianggap homogen (sakral), yang teratur dan harus diatur. Di Alun-alun Utara inilah dilakukan upacara keagamaan (Grebek Maulud, Grebeg Sawal, dan Grebeg Besar). Pada saat upacara keagamaaan gamelan yang disebut dengan “Kyai Sekati” dan “Nyai Sekati” dimainkan di halaman Masjid Agung terletak di sebelah barat dari Alun-alun.

Alun-alun Lor berfungsi menyediakan persyaratan bagi berlangsungnya kekuasaan raja. Alun-alun Kidul berfungsi untuk menyiapkan suatu kondisi yang menunjang kelancaran hubungan kraton dengan universum. Alun-alun Kidul dapat juga melambangkan kesatuan kekuasaan sakral antara raja dan para bangsawan yang tinggal disekitar Alun-alun.(Mengutip tulisan di dalam jurnal Handinoto (Staf Pengajar Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra) yang berjudul “ALUN-ALUN SEBAGAI IDENTITAS KOTA JAWA, DULU DAN SEKARANG”.)
Pada jaman penjajahan Belanda Alun-alun sangat erat hubunganya dengan susunan pemerintahan yang dijalankan. Alun-alun dianggap sebagai monument kekuasaan. Dalam sistem pemerintahan kolonial, Jawa dibagi menjadi 3 Propinsi, 18 Karesidenan yang masing-masing dibawahi oleh soerang residen, serta 66 Kabupaten yang masing-masing dikuasi secara bersama oleh seorang Asisten, Residen (orang Belanda) dan seorang Bupati (Pribumi). Pada pusat kota Kabupaten inilah dibakukan semacam lambang pemerintahan bersama antara Asisten Residen dengan Bupati dalam bentuk phisik. Ujudnya adalah bentuk phisik tradisional berupa rumah Bupati dengan pendopo didepannya. Di depan rumah Bupati tersebut terdapat Alun-alun yang ditumbuhi oleh dua buah atau kadang-kadang sebuah pohon beringin.

Sifat Alun-alun yang tadinya sangat sakral bergeser menjadi ruang yang sangat merakyat. Hingga sekarang Alun-alun telah mengalami perubahan konsep dari bentuk fisiknya, walaupun bentuk fisiknya tidak banyak berubah.

Alun-Alun Utara Keraton Kasunanan Surakarta
Di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta sekarang terdapat tempat-tempat yang sering dikunjungi masyarakat. Pasar klewer di sebelah pojok selatan-barat, kios optik di sebelah timur, kios buku-buku di utara sebelah barat arah masuk ke Alun-alun dari Jalan Slamet Riyadi, barang-barang pusaka seperti keris, tombak dan sebagainya di sebelah timur jalan tersebut. Semua tertata rapi membentuk ruang-ruang kota yang dinamis. Dari ruang-ruang ini, Alun-alun Utara dikepung keramaian yang merupakan ruang publik (public sphere) bagi masyarakat kota Solo. Tidak dengan Alun-alun Utara yang berada di tengah, sepi gersang dan hanya ramai pada momen-momen tertentu. Alun-alun Utara tertutup oleh pagar besi yang melingkari.

Sebelum Walikota Solo Joko Widodo merapikan daerah sekitar Alun-alun Utara, hampir seluruh bagian luar pagar dari Alun-alun tertempel dan tersebar pedagang kaki lima, kios-kios optik yang berjubel dengan pedagang pusaka dan stiker, dan penjual buku-buku yang mangkal sembarangan di pinggir jalanan. Sampai sekarang jikalau upacara keagamaan, Alun-alun Utara disulap menjadi pasar hiburan rakyat. Dari pedagang kaki lima yang berani memasang tenda di Alun-alun, tong setan, kemidi putar, penjual mainan, sirkus dan sebagainya. Kesakralan Alun-alun Utara hilang dalam balutan pedagang yang mengepungnya.

Pemerintah Kota Solo hingga saat ini masih melakukan penataan Alun-alun Utara dan area di sekitarnya. Pemkot Surakarta akan melanjutkan penataan kawasan Alun-alun Utara Keraton Kasunanan pada 2011 dengan tahap awal berupa sosialisasi kepada sejumlah pemangku kepentingan setempat (Kompas 23 Desember 2010). Meskipun demikian tidak mudah menjadikan Alun-alun utara dan area sekitarnya sebagai destinasi masyarakat lokal atau asing sesuai dengan monumentalisnya.

Pengertian publik dalam arsitektur sebenarnya tidak merujuk pada aktivitas tertentu namun lebih kepada rasa, suasana, dan penerapan indera yang mempengaruhi kesan kepemilikan kepada sebuah locus. Ruang publik dalam arsitektur terjadi bila pada locus tersebut tercipta kesan kepemilikan yang terbagi merata pada setiap subyek pengguna di sana. Kepemilikan yang dimaksutkan adalah dalam konteks psikologis.(David Hautama. Dikutip dari; Ruang Publik Dalam Arsitektur, Ruang Publik, Kanisius 2010) Dalam hal ini setiap orang yang berkunjung ke Alun-alun utara dan sekitarnya tidak hanya menikmati fasilias yang nantinya akan disediakan oleh Pemkot Surakarta, tapi dengan adanya Alun-alun Utara menjadikan penguatan atas rasa cinta kebudayaan yang sama.

Minggu, 24 April 2011

sisi sedih yang indah

Ini tulisan tentang kesedihan dan keindahan dalam kesedihan. Di dalam tulisan ini nantinya berupa kupasan tentang sebuah rasa sedih yang bergejolak. Gejolak-gejolak itu jika kita cermati merupakan sabda dari sang Maha Kuasa kepada kita untuk mengilhami kehidupan yang telah diberikanya. Belajar dari sebuah kesedihan bukan berarti belajar dari kesalahan dan kenistaan akan hidup kita. Belajar kesedihan sekali lagi saya tekankan adalah belajar akan sabda-sabda tuhan yang teranugrahkan. Kesedihan tidak selamanya hal yang buruk untuk didapati. Karena kesedihan selalu mendampingi kesenangan, keceriaan dan sekutu-sekutunya. Yang berarti tanpa kesedihan tidak akan ada kesenangan dan sekutunya. Yang didapati hanyalah kehampaan dalam hidup. Kehampaan sama halnya sebuah isi yang mengambang tanpatujuan pasti. Gerakanya tidak dinamis ataupun statis, jangan dibayangkan. Membayangkan kehampaan adalah hal yang sia-sia saja. Berawal dari hal tersebut munculah keindahan yang pertama dari kesedihan. Yaitu kesedihan tidak menjadi hal yang sia-sia untuki dapat kita bayangkan. Kehadiranya justru akan memancing keindahan dalam kesedihan. Sesedih apa yang dapat kamu bayangkan maka seindah kamu menampilkan kesedihan dalam bayanganmu.
Jarang sekali orang yang dapat menampilkan kesedihanya dalam bayanganya berulang kali. Maka sukurilah, karena itu sebuah keindahan. Sekali lagi tidak sembarang orang bisa mengahadirkan kesedihan sendiri dengan baik. Kebanyakan umumnya, mereka dapat menghadirkan kesedihan karena faktor dari luar. Dan percayalah jika kamu dapat menghadirkan kesedihan dalam dirimu sendiri, kemudian kamu dapat menghadirkan keindahan dalam dirimu sendiri tanpa faktor dari luar kecuali dirimu sendiri. Percayalah bahwa keindahan dari kesedihan abadi telah kau dapati. Sekali lagi yakinlah dengan segenap jiwa dan ragamu. hanya satu sebutan untuk orang seperti itu. Orang yang sangat luat biasa. Orang yang tenggelam dalam kesedihan abadi dan keindahan abadi. Dan selamat anda adalah orang gila. Orang yang tidak waras. Selamat.

Senin, 24 Januari 2011

Tersesat

Kadang kita harus tersesat dalam sebuah perjalanan hidup. Disaat tersesat itulah sebenarnya kita menambahkan pengalaman menarik dari kehidupan kita. Aku pernah mengalami beberapa kebingungan ketika tersesat. Yang paling dekat dan barusan aku alami adalah ketika aku touring bersama teman-temanku se-organisasi kampus ke Purworejo. Di Purworejo aku murni bingung arah Logikaku kalah dengan imajiku. Yang tadinya aku kira itu arah barat, sebenarnya itu arah timur dan sebaliknya untuk semua arah mata angin yang aku kenal. Melihat matahari-pun tak yakin kalau dia bangun dari arah timur, dan pada sebuah perjalanan mencari salah satu rumah sahabat baruku di Purworejo, kami tersesat dua kali ke pemakaman.
Sebenarnya kami punya navigator disana, yaitu salah satu teman kami yang juga asli orang Purworejo. Tapi maklumlah si navigator hanya mengandalkan sms untuk mencari alamat rumah sahabat baru.
Yang paling aku ingat dari ketersesatanku waktu itu adalah jalan tanjakan kemudian belok kanan. Alhasil dua kali sesuai dengan sms kutemukan dua tanjakan yang berujung batu nisan dan tanpa ada yang dinamakan belokan ke kanan.
Secara sederhana ketersesatan waktu itu meninggalkan bekas yang kuat di Purworejo, pengalaman.
Untuk saat ini aku masih ingin bersukur atas salah satu nikmat yang telah diberikan Yang Maha Kuasa atas nikmatnya, "keteresatan".
Tapi yang paling aku suka jika aku tersesat adalah aku tahu jalan pulang, dan sampai pada tujuan awal. Walau sebenarnya sangat susah untuk menemuka tujuan awal, tapi aku yakin bisa.

Sabtu, 25 Desember 2010

haji

Secara bahasa haji berarti menyengaja sedangkan secara istilah adalah menyengaja pergi ke baitulkharam untuk melaksanakan amalan tertentu. pada waktu tertentu bagi orang yang mampu melalakukanya.
haji adalah rukun ke-5 dari rukun islam yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada setiap orang yang sudah dewasa dan mampu.
firman Allah SWT tentang haji. perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-imron ayat 96 dan 97.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [214]. [214] Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.(Q.S. Al Imron 96)

فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim [215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah [2l6]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [215] Ialah: tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka’bah. [216] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.(Q.S. Al-Imron 97)

dan dalam surat al hajj{22} ayat 26,27

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.(Q.S. Al-Hajj ayat 26)

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus [985] yang datang dari segenap penjuru yang jauh, [985]. “Unta yang kurus” menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.(Q.S. Al-hajj Ayat 27)

di sampaikan oleh Ust. Zainal Ahmad pada kajian rutin gelombang dua di manang tanggal 24 Desember 2010
di terbitkan pula di http://mtacabangmanang.blogdetik.com/?p=7

Rabu, 01 Desember 2010

Lokananta, Di bawah Bayang-bayang Ketidakberdayaan Pengelolaan

Tampak dari luar, hanya halaman yang sebagian tak terurus, dengan rumput memanjang bebas hingga setinggi lutut orang dewasa, semakin menambah kesan kurang terawat tempat ini. Sepintas, tak terlihat kalau bangunan di baliknya ternyata menyimpan aset budaya berharga. Di tanah seluas 21.150 meter persegi yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Solo inilah, berdiri kokoh bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tempat itu menjadi saksi bisu lahirnya maestro-maestro musik legendaris Indonesia seperti Gesang, Waldjinah, dan Bing Slamet.

Bangunan tersebut dulunya bernama Pabrik Piringan Hitam Lokananta, yang dioptimalkan sebagai Pabrik Piringan Hitam Jawatan Radio Kementerian Republik Indonesia. Berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 dan diresmikan oleh Menteri Penerangan R.I. kala itu, Soedibyo. Selang lima tahun, pemerintah mengubah status Lokananta menjadi Perusahaan Negara (PN). Seiring tuntutan zaman, tahun 1993 Lokananta pun beralih menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Namun karena kondisi perusahaan yang terus terpuruk, pemerintah pun melikuidasinya pada tahun 2001. Setelah keputusan tersebut, status perusahaan rekaman musik pemerintah yang pertama ini berubah menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI) Cabang Surakarta hingga sekarang.

Orientasi kerja Lokananta terus mengalami penyesuaian seiring dengan pergantian generasi pemimpinnya. Pada awalnya, Lokananta merekam dan memproduksi piringan hitam. Dalam sejarahnya, Lokananta erat hubungannya dengan RRI. Dikarenakan Lokananta berdiri atas prakarsa Direktur RRI Jakarta yang pernah menjadi kepala RRI Surakarta. Tujuan pendirian Lokananta waktu itu untuk memenuhi kebutuhan bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Setelah menjadi Perusahaan Negara, tugas Lokananta adalah menggali, membina, melestarikan, dan menyebarluaskan kesenian dan kebudayaan nasional. Namun pada tahun 1972, Lokananta mulai berhenti memproduksi piringan hitam dan digantikan dengan kaset.

Diangkatnya Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999 yang melikuidasi Departemen Penerangan, berbuah ketidakjelasan status Lokananta. Kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap jumlah pegawai yang awalnya 80-an hingga sekarang hanya tersisa 21 pegawai. "Kebanyakan dari mereka kembali ke RRI atau instansi awal,” jelas H Pendi Heryadi, pimpinan Lokananta sekarang.

Koleksi
Nama Lokananta memang identik dengan berbagai koleksi yang berhubungan dengan musik. Tempat ini pun memiliki ruang-ruang khusus yang menyimpan banyak aset kebudayaan. Di salah satu ruang gedung, terdapat tempat penyimpanan master-master lagu kebudayaan, gending-gending, dan pidato kenegaraan pada masa Bung Karno. Kesemuanya tersusun rapi dalam beberapa almari dengan kejelasan tanggal dan waktu produksi pada tiap-tiap almari. Piringan-piringan hitam pun ditempatkan pada ruangan tersendiri dan ditata dalam rak kayu berjajar. Diletakkan pula bubuk kopi di setiap tengah rak untuk perawatan sampul-sampul piringan hitam yang terbuat dari kertas.
Tidak jauh dari ruang penyimpanan piringan hitam, terdapat museum mini. Di dalamnya tersimpan banyak memorabilia antik seperti mesin putar piringan hitam tahun 1970, equalizer tahun 1960, reverberation tahun 1960, alat ukur osciloscape tahun 1960, mixer audio tahun 1960, echo amplifier tahun 1960, mesin pemotong pita, hingga pengganda kaset tahun 1960. Lirik lagu Indonesia Raya dalam tiga versi yang berbeda, jenis model dan bahan piringan hitam, produk-produk Lokananta dan beberapa microphone untuk rekaman jaman kejayaan Lokananta dahulu juga masih tersimpan rapi di sini.

Terdapat pula sebuah studio rekaman yang terletak di utara gedung kantor. Studio ini adalah studio ketiga yang dimiliki oleh Lokananta. Studio yang pertama adalah studio tempat rekaman lagu Bengawan Solo oleh alm.Gesang, terletak di selatan pintu masuk gedung kantor. Dan studio kedua terletak di timur studio ketiga. Akan tetapi, yang masih berfungsi sekarang hanyalah studio ketiga. Studio pertama sudah menjadi ruang penyimpanan arsip-arsip penting kantor, dan studio kedua rencananya akan difungsikan kembali untuk studio musik. Di dalam studio ketiga atau studio rekaman utama sekarang, masih tersimpan seperangkat gamelan yang mengilhami nama Lokananta, Gamelan Lokananta. Gamelan ini konon dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh.

Perkembangan Lokananta
Sebelum Dinas Penerangan dilikuidasi, mesin-mesin pembuat piringan hitam Lokananta masih ada. Namun setelah itu, keberadaannya malah berangsur-angsur tiada. Praduga yang paling besar adalah akibat tidak adanya jaminan kesejahteraan karyawan Lokananta di era tersebut. Hal ini berdampak kepada kebijakan area Lokananta sekarang yang tidak sesuai dengan tujuan awal didirikannya. Akhir-akhir ini, Lokananta memang getol untuk melakukan alih fungsi lahan. Pengalih fungsian lahan Lokananta sejauh ini berupa lapangan futsal, penyewaan Kantor Pos, dan penyewaan gudang kertas dan kardus.

Tidak menutup kemungkinan jumlah alih fungsi lahan ini bakal bertambah seiring dengan ijin dari pihak PNRI Pusat. Dengan pemasukan dari pengalih fungsian lahan ini, keberlangsungan hidup Lokananta berikut para karyawannya dapat terjaga sampai sekarang. Perlu diketahui, sumber dana operasi Lokananta sebelumnya hanya berasal dari produksi ulang rekaman lama dalam bentuk kaset dan VCD, serta jasa rekaman yang tidak tentu waktunya.

Masalah pendanaan merupakan masalah yang selama enam tahun terakhir menjadi momok Lokananta. Setiap kebijakan yang diambil oleh pimpinan Lokananta bukan merupakan sebuah kebijakan yang gampang untuk direalisasikan, harus dengan persetujuan Perum PNRI Pusat mengingat Lokananta berada dibawah Perum PNRI. Sederhananya, bahwa setiap pimpinan Lokananta hanya bertugas untuk menjaga Lokananta. Kewenangan pimpinan Lokananta merupakan keberanian pimpinan dalam kebijakanya untuk Lokananta. Seperti halnya pengalih fungsian gudang untuk lapangan futsal. Karena dampaknya bagus dan memberikan kontribusi luar biasa kepada Lokananta, maka pimpinan pusat pun mengacungi jempol. Akan tetapi, jika ternyata kebijakan pimpinan Lokananta membuat Lokananta merugi, maka pimpinan pusat siap meminta pertanggung jawaban atas keberanian kebijakan tersebut.

Sementara itu, tahun ini Lokananta tengah merilis studio musik rekaman kecil untuk band-band indie. Penggarapanya sudah hampir selesai. Lokananta memang berusaha mempopulerkan diri kepada masyarakat muda Kota Solo, dan inilah salah satu langkahnya. Lokananta juga mempunyai sekolah musik walaupun belum maksimal penggarapannya. Sekolah musik sekarang sementara hanya untuk olah vokal. Meskipun demikian, perangkat musik lainnya seperti drum, gitar, dan bas telah tersedia.
Selain kemegahan bangunan di dalamnya, studio Lokananta juga terkenal dengan kualitas rekaman yang menjanjikan. “Tahun lalu puas, operator bekerja sama dengan baik, hasil oke,” papar Rizka Dwipayani Setiyakso, SE, Msi, Kepala Sekolah Play Group dan TK Al-Qur’an Terpadu Bintangku Surakarta. Sudah dua tahun Rizka rekaman untuk kenang-kenangan kelulusan. Rizka berharap tahun depan dapat rekaman kembali di Lokananta. Ia juga menghimbau agar setiap orang melihat Lokananta bukan dari luarnya saja. Menurutnya, banyak potensi terpendam yang dimiliki Lokananta yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.

Lokananta bisa dikatakan sedang bangkit dari sebuah mati suri. Berusaha terus eksis dengan berbagai halangan dan rintangan. Tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pihak Lokananta sendiri. Bapak H. Pendi Heryadi menyebut masa sekarang ini sebagai masa–masa konsolidasi Lokananta. ”Pihak Lokananta berkonsolidasi dengan berbagai pihak baik dari pemerintah maupun investor-investor swasta yang peduli terhadap budaya bangsa untuk menggalang dukungan terutama dukungan materi. Dukungan semua lapisan masyarakat pun juga diperlukan untuk bangunnya Lokananta dari mati suri. Inilah momentum yang tepat untuk kebangkitan Lokananta,” tandasnya lebih lanjut.

Lokananta sebagai Kotak Budaya

Boleh disebut, Lokananta adalah bahan siap dan instan yang potensial bagi kelengkapan budaya kota Solo. Namun kenyataannya sekarang, Lokananta seolah-olah menjadi dokumen yang mati. Ini berawal dari Lokananta yang tidak bisa bersaing ketika piringan hitam tergeser oleh kaset pita. Pengamat Sejarah dari UNS, Drs. Soedarmono SU., berpendapat bahwa Lokananta akan tetap mati suri jika tidak ada ide kreatif yang penuh dengan gebrakan. Misalnya menjual piringan hitam kecil dengan mesin pemutar pringan hitam layaknya pemutar CD mini era sekarang, yang mudah dibawa kemana pun dan praktis. Tentu siapa yang tak rindu dengan piringan hitam? Jika sebelumnya bisa mempelopori piringan hitam, mengapa Lokananta tidak bisa menjadi pelopor untuk industri kaset pita dan CD? Padahal industri rekaman merupakan pendokumentasian layaknya arsip nasional. ”Mentalitas dagang Lokananta tidak punya, manajemen tolol, perusahaan negara dibesar-besarkan,” kritiknya menyinggung kondisi Lokananta sekarang.

Di sisi lain, Waldjinah, penyanyi gending Jawa dan keroncong yang memiliki suara merdu nan-empuk, berharap agar Lokananta akan selamanya ada. Tidak hanya sekali beliau rekaman di Lokananta, bahkan puluhan suara emasnya terekam di Lokananta. Beliau pun merasa bangga telah dibesarkan oleh Lokananta. ”Kalau bisa setiap orang yang pernah rekaman di Lokananta merasa bangga pernah rekaman di Lokananta,” papar Ibu Waldjinah.

Dengan segala pro dan kontra yang menyertai, tak dapat ditampik bahwa Lokananta mempunyai banyak PR besar. Sebagai pelopor industri rekaman di tanah air, sudah selayaknya Lokananta lebih dikenal luas di tengah masyarakat. Untuk ke depannya, Lokananta harus lebih serius mengembangkan potensi-potensi yang ada. Promosi yang baik juga menjadi faktor penting dalam bangkitnya Lokananta. Harapan untuk menjadikan Lokananta sebagai ”kotak budaya” yang dikenal dan bermanfaat bagi masyarakat semoga tak menjadi impian kosong semata.
=hudzaifah+







tulisan ini telah di terbitkan di majalah lpm kentingan uns edisi ke-17 tahun 2010 pada rubrik bentara

Senin, 11 Oktober 2010

Mainan Yang Terlupakan Dan Tetap Eksis


Mainan adalah suatu benda atau barang yang bisa memuaskan nafsu bermain anak-anak pada umumnya. Bahkan tidak hanya usia anak-anak yang menyukai mainan. Remaja, orang tua, hingga lapisan lansia menyukai mainan. Dari yang berwujut benda fisik dan nyata ataupun yang bersifat maya. Semua mainan memberikan rasa kesenangan yang tanpa bisa diprediksi batas kepuasan yang diberikanya.
Di dalam istilah bahasa jawa dikenal dengan kata dolanan, sekarang lebih familiar dengan kata game. Dolanan sekarang dianggap sebagai sebuah kegiatan menyenangkan yang primitif, tidak maju, ndeso, dan katrok. Lebih gaul jika dengan mengatakanya dengan sebutan game. Tapi pada dasarnya tetap saja mainan, sesuatu yang bisa dimainkan dan memberikan kesenangan.
Sudah selazimnya, mainan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi. Dahulu permainan seperti dakon, kapal-kapalan minyak sangat digemari anak-anak. Kemudian permainan orang-orangan dari kertas yang dimainkan layaknya sebuah keluarga, atau orang-orangan dari plastik bertema tokoh pahlawan atau superhero. Tapi sekarang, anak-anak cenderung lebih senang memainkan sesuatu di dalam layar datar dengan pengendali berentetan huruf, angka, dan simbol-simbol khusus yang terkemas dalam keyboard dan benda sebentuk telapak tangan untuk mengarahkan, katakanlah sebuah mouse. The Simp misalnya, telah menghipnotis secara halus seorang hingga lupa akan segala aktifitas pokoknya. Waktu, tugas sekolah, bahkan makan. Tentu cara memainkan maianan era sekarang berbeda dengan mainan terdahulu.
Kemeriahan dunia modern lama-kelamaan mengikis bahkan memendam sedikit demi sedikit ingatan kita kepada mainan-mainan terdahulu. Kita sudah mengganggap mainan terdahulu dengan istilah yang memojokkan kepada hal yang bersifat primitif dengan sebutan tradisional. Tradisional merujuk kepada proses yang lama, bertele-tele dan cocok untuk generasi tua saja. Generasi tua yang masih melekat kepadanya kekolotan akan tradisi dan harus dilakukan dengan perlahan dan dengan penuh kesabaran. Kemodernan memeberikan kepraktisan, cepat, dan sebenarnya lebih kepada manfaat efektif dan efisien. Maian sekarang lebih cocok dikatakan sebagai mesin. Karena mesin adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah kerja manuasia. Mainan sebagai mesin pemuas kesenangan, mesin pelampiasan kesalahan dan masalah, pendobrak kreativitas atau kekonyolan, pendidikan atau bahkan penyesatan, penghabisan waktu dan biaya, juga sebagai penghasilan baru. Mesin-mesin mainan memberikan berbagai tantangan dan kesenangan yang berbeda dan lebih lama dari mainan terdahulu.
Tapi tidak menjadi hal yang seratus persen benar, permainan jaman dahulu memberikan rasa bosan yang cepat. Terbukti dengan adanya pedagang maian jaman dahulu yang hingga sekarang masih saja mngais rejeki dengan menjual mainan-maian jaman dahulu pada momen-momen khusus, seperti pasar malam di Alun-alun Utara Keratin Kasunanan Surakarta ketika sekaten tiba. Mereka tidak merasa jera menjual maian- mainan jaman dahulu yang telah kita pojokkan kepada keprimitifan. Terjual habis atau tidak, mereka akan berjualan di sekaten tahun depan. Mainan-mainan yang terjualpun tidak menjadi mainan yang basi, dan kembali terlupakan ketika sekaten selesai.
Sayang, mainan itu terlupakan kembali. Jarang ada toko mainan yang mengingatkan kita akan mainan terdahulu. Yang ada hanyalah mesin-mesin mainan. Tidak susah menemukan mesin-mesin mainan di hutan keramaian kemodernan. Di supermarket, pasar, gamezone, toko mainan, rental, semua terdapat mesin-mesin mainan. Mesin-mesin mainan dipasarkan lewat online, dinikmati lewat online-pun bisa. Sedangkan mainan terdahulu, ditemukan di toko mainan-pun jarang yang menyediakan, apalagi dipasarkan secara online. Bagaimana kita bisa mengingat mainan-maian jaman dahulu? Kalau tidak ada sekaten, yang di dalamnya masih ada pedagang-pedagang yang tidak mau jera menjual mainanya. Jika hewan dapat punah, apakah mainan juga dapat punah? Lantas bagaimanakah kepunahanya? Hanya kata tradisional yang menyelematkan mainan tersebut untuk dapat eksis hingga sekarang. Yang sebenarnya dengan perlahan memojokkan mainan terdahulu untuk perlahan kita lupakan.
hudzaifah

Minggu, 10 Oktober 2010

status FB

otak ku tak ber AC
tak kudapati kesejukan didalamnya
memang tak terbingkai
tak semilir angin yang ada
hampa juga tidak, sesak jelas
...dan panas


kau sekali lagi membuatku terpesona, setelah itu muak.
dari perjalananku hingga kini
kembali ke awal dimana aku ada
titik awal perjalanan ku ini, rumah
menjadi awal kelahiran kembali


Diam dalam kediaman
gelap sunyi teman sejati
bungkam dan hanya berusaha menyimak dengan kesemua indra.
Smaksimal mungkin.


apa aku tampak seperti orang yang mudah menyerah?
apa aku tampak orang yang selalu patah semangatz?
apa aku tampak seperti orang yang minta dikasihani?
lupakan pertanyaanmu, dan ingatlah
aku adalah seorang yang menyembunyikan dirinya.
ingatlah itu,
dan bacalah sejarah namaku tertulis dalam buku-buku kun...o


hehe lucu juga status-statusku