Secara bahasa haji berarti menyengaja sedangkan secara istilah adalah menyengaja pergi ke baitulkharam untuk melaksanakan amalan tertentu. pada waktu tertentu bagi orang yang mampu melalakukanya.
haji adalah rukun ke-5 dari rukun islam yang diwajibkan oleh Allah SWT kepada setiap orang yang sudah dewasa dan mampu.
firman Allah SWT tentang haji. perhatikan firman Allah SWT dalam surat Al-imron ayat 96 dan 97.
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia [214]. [214] Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.(Q.S. Al Imron 96)
فِيهِ آَيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آَمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim [215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah [2l6]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [215] Ialah: tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka’bah. [216] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.(Q.S. Al-Imron 97)
dan dalam surat al hajj{22} ayat 26,27
وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu memperserikatkan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku’ dan sujud.(Q.S. Al-Hajj ayat 26)
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus [985] yang datang dari segenap penjuru yang jauh, [985]. “Unta yang kurus” menggambarkan jauh dan sukarnya yang ditempuh oleh jemaah haji.(Q.S. Al-hajj Ayat 27)
di sampaikan oleh Ust. Zainal Ahmad pada kajian rutin gelombang dua di manang tanggal 24 Desember 2010
di terbitkan pula di http://mtacabangmanang.blogdetik.com/?p=7
Pilihan Cerdas
Sabtu, 25 Desember 2010
Rabu, 01 Desember 2010
Lokananta, Di bawah Bayang-bayang Ketidakberdayaan Pengelolaan
Tampak dari luar, hanya halaman yang sebagian tak terurus, dengan rumput memanjang bebas hingga setinggi lutut orang dewasa, semakin menambah kesan kurang terawat tempat ini. Sepintas, tak terlihat kalau bangunan di baliknya ternyata menyimpan aset budaya berharga. Di tanah seluas 21.150 meter persegi yang terletak di jalan Jend. Ahmad Yani Solo inilah, berdiri kokoh bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tempat itu menjadi saksi bisu lahirnya maestro-maestro musik legendaris Indonesia seperti Gesang, Waldjinah, dan Bing Slamet.
Bangunan tersebut dulunya bernama Pabrik Piringan Hitam Lokananta, yang dioptimalkan sebagai Pabrik Piringan Hitam Jawatan Radio Kementerian Republik Indonesia. Berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 dan diresmikan oleh Menteri Penerangan R.I. kala itu, Soedibyo. Selang lima tahun, pemerintah mengubah status Lokananta menjadi Perusahaan Negara (PN). Seiring tuntutan zaman, tahun 1993 Lokananta pun beralih menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Namun karena kondisi perusahaan yang terus terpuruk, pemerintah pun melikuidasinya pada tahun 2001. Setelah keputusan tersebut, status perusahaan rekaman musik pemerintah yang pertama ini berubah menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI) Cabang Surakarta hingga sekarang.
Orientasi kerja Lokananta terus mengalami penyesuaian seiring dengan pergantian generasi pemimpinnya. Pada awalnya, Lokananta merekam dan memproduksi piringan hitam. Dalam sejarahnya, Lokananta erat hubungannya dengan RRI. Dikarenakan Lokananta berdiri atas prakarsa Direktur RRI Jakarta yang pernah menjadi kepala RRI Surakarta. Tujuan pendirian Lokananta waktu itu untuk memenuhi kebutuhan bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Setelah menjadi Perusahaan Negara, tugas Lokananta adalah menggali, membina, melestarikan, dan menyebarluaskan kesenian dan kebudayaan nasional. Namun pada tahun 1972, Lokananta mulai berhenti memproduksi piringan hitam dan digantikan dengan kaset.
Diangkatnya Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999 yang melikuidasi Departemen Penerangan, berbuah ketidakjelasan status Lokananta. Kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap jumlah pegawai yang awalnya 80-an hingga sekarang hanya tersisa 21 pegawai. "Kebanyakan dari mereka kembali ke RRI atau instansi awal,” jelas H Pendi Heryadi, pimpinan Lokananta sekarang.
Koleksi
Nama Lokananta memang identik dengan berbagai koleksi yang berhubungan dengan musik. Tempat ini pun memiliki ruang-ruang khusus yang menyimpan banyak aset kebudayaan. Di salah satu ruang gedung, terdapat tempat penyimpanan master-master lagu kebudayaan, gending-gending, dan pidato kenegaraan pada masa Bung Karno. Kesemuanya tersusun rapi dalam beberapa almari dengan kejelasan tanggal dan waktu produksi pada tiap-tiap almari. Piringan-piringan hitam pun ditempatkan pada ruangan tersendiri dan ditata dalam rak kayu berjajar. Diletakkan pula bubuk kopi di setiap tengah rak untuk perawatan sampul-sampul piringan hitam yang terbuat dari kertas.
Tidak jauh dari ruang penyimpanan piringan hitam, terdapat museum mini. Di dalamnya tersimpan banyak memorabilia antik seperti mesin putar piringan hitam tahun 1970, equalizer tahun 1960, reverberation tahun 1960, alat ukur osciloscape tahun 1960, mixer audio tahun 1960, echo amplifier tahun 1960, mesin pemotong pita, hingga pengganda kaset tahun 1960. Lirik lagu Indonesia Raya dalam tiga versi yang berbeda, jenis model dan bahan piringan hitam, produk-produk Lokananta dan beberapa microphone untuk rekaman jaman kejayaan Lokananta dahulu juga masih tersimpan rapi di sini.
Terdapat pula sebuah studio rekaman yang terletak di utara gedung kantor. Studio ini adalah studio ketiga yang dimiliki oleh Lokananta. Studio yang pertama adalah studio tempat rekaman lagu Bengawan Solo oleh alm.Gesang, terletak di selatan pintu masuk gedung kantor. Dan studio kedua terletak di timur studio ketiga. Akan tetapi, yang masih berfungsi sekarang hanyalah studio ketiga. Studio pertama sudah menjadi ruang penyimpanan arsip-arsip penting kantor, dan studio kedua rencananya akan difungsikan kembali untuk studio musik. Di dalam studio ketiga atau studio rekaman utama sekarang, masih tersimpan seperangkat gamelan yang mengilhami nama Lokananta, Gamelan Lokananta. Gamelan ini konon dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh.
Perkembangan Lokananta
Sebelum Dinas Penerangan dilikuidasi, mesin-mesin pembuat piringan hitam Lokananta masih ada. Namun setelah itu, keberadaannya malah berangsur-angsur tiada. Praduga yang paling besar adalah akibat tidak adanya jaminan kesejahteraan karyawan Lokananta di era tersebut. Hal ini berdampak kepada kebijakan area Lokananta sekarang yang tidak sesuai dengan tujuan awal didirikannya. Akhir-akhir ini, Lokananta memang getol untuk melakukan alih fungsi lahan. Pengalih fungsian lahan Lokananta sejauh ini berupa lapangan futsal, penyewaan Kantor Pos, dan penyewaan gudang kertas dan kardus.
Tidak menutup kemungkinan jumlah alih fungsi lahan ini bakal bertambah seiring dengan ijin dari pihak PNRI Pusat. Dengan pemasukan dari pengalih fungsian lahan ini, keberlangsungan hidup Lokananta berikut para karyawannya dapat terjaga sampai sekarang. Perlu diketahui, sumber dana operasi Lokananta sebelumnya hanya berasal dari produksi ulang rekaman lama dalam bentuk kaset dan VCD, serta jasa rekaman yang tidak tentu waktunya.
Masalah pendanaan merupakan masalah yang selama enam tahun terakhir menjadi momok Lokananta. Setiap kebijakan yang diambil oleh pimpinan Lokananta bukan merupakan sebuah kebijakan yang gampang untuk direalisasikan, harus dengan persetujuan Perum PNRI Pusat mengingat Lokananta berada dibawah Perum PNRI. Sederhananya, bahwa setiap pimpinan Lokananta hanya bertugas untuk menjaga Lokananta. Kewenangan pimpinan Lokananta merupakan keberanian pimpinan dalam kebijakanya untuk Lokananta. Seperti halnya pengalih fungsian gudang untuk lapangan futsal. Karena dampaknya bagus dan memberikan kontribusi luar biasa kepada Lokananta, maka pimpinan pusat pun mengacungi jempol. Akan tetapi, jika ternyata kebijakan pimpinan Lokananta membuat Lokananta merugi, maka pimpinan pusat siap meminta pertanggung jawaban atas keberanian kebijakan tersebut.
Sementara itu, tahun ini Lokananta tengah merilis studio musik rekaman kecil untuk band-band indie. Penggarapanya sudah hampir selesai. Lokananta memang berusaha mempopulerkan diri kepada masyarakat muda Kota Solo, dan inilah salah satu langkahnya. Lokananta juga mempunyai sekolah musik walaupun belum maksimal penggarapannya. Sekolah musik sekarang sementara hanya untuk olah vokal. Meskipun demikian, perangkat musik lainnya seperti drum, gitar, dan bas telah tersedia.
Selain kemegahan bangunan di dalamnya, studio Lokananta juga terkenal dengan kualitas rekaman yang menjanjikan. “Tahun lalu puas, operator bekerja sama dengan baik, hasil oke,” papar Rizka Dwipayani Setiyakso, SE, Msi, Kepala Sekolah Play Group dan TK Al-Qur’an Terpadu Bintangku Surakarta. Sudah dua tahun Rizka rekaman untuk kenang-kenangan kelulusan. Rizka berharap tahun depan dapat rekaman kembali di Lokananta. Ia juga menghimbau agar setiap orang melihat Lokananta bukan dari luarnya saja. Menurutnya, banyak potensi terpendam yang dimiliki Lokananta yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Lokananta bisa dikatakan sedang bangkit dari sebuah mati suri. Berusaha terus eksis dengan berbagai halangan dan rintangan. Tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pihak Lokananta sendiri. Bapak H. Pendi Heryadi menyebut masa sekarang ini sebagai masa–masa konsolidasi Lokananta. ”Pihak Lokananta berkonsolidasi dengan berbagai pihak baik dari pemerintah maupun investor-investor swasta yang peduli terhadap budaya bangsa untuk menggalang dukungan terutama dukungan materi. Dukungan semua lapisan masyarakat pun juga diperlukan untuk bangunnya Lokananta dari mati suri. Inilah momentum yang tepat untuk kebangkitan Lokananta,” tandasnya lebih lanjut.
Lokananta sebagai Kotak Budaya
Boleh disebut, Lokananta adalah bahan siap dan instan yang potensial bagi kelengkapan budaya kota Solo. Namun kenyataannya sekarang, Lokananta seolah-olah menjadi dokumen yang mati. Ini berawal dari Lokananta yang tidak bisa bersaing ketika piringan hitam tergeser oleh kaset pita. Pengamat Sejarah dari UNS, Drs. Soedarmono SU., berpendapat bahwa Lokananta akan tetap mati suri jika tidak ada ide kreatif yang penuh dengan gebrakan. Misalnya menjual piringan hitam kecil dengan mesin pemutar pringan hitam layaknya pemutar CD mini era sekarang, yang mudah dibawa kemana pun dan praktis. Tentu siapa yang tak rindu dengan piringan hitam? Jika sebelumnya bisa mempelopori piringan hitam, mengapa Lokananta tidak bisa menjadi pelopor untuk industri kaset pita dan CD? Padahal industri rekaman merupakan pendokumentasian layaknya arsip nasional. ”Mentalitas dagang Lokananta tidak punya, manajemen tolol, perusahaan negara dibesar-besarkan,” kritiknya menyinggung kondisi Lokananta sekarang.
Di sisi lain, Waldjinah, penyanyi gending Jawa dan keroncong yang memiliki suara merdu nan-empuk, berharap agar Lokananta akan selamanya ada. Tidak hanya sekali beliau rekaman di Lokananta, bahkan puluhan suara emasnya terekam di Lokananta. Beliau pun merasa bangga telah dibesarkan oleh Lokananta. ”Kalau bisa setiap orang yang pernah rekaman di Lokananta merasa bangga pernah rekaman di Lokananta,” papar Ibu Waldjinah.
Dengan segala pro dan kontra yang menyertai, tak dapat ditampik bahwa Lokananta mempunyai banyak PR besar. Sebagai pelopor industri rekaman di tanah air, sudah selayaknya Lokananta lebih dikenal luas di tengah masyarakat. Untuk ke depannya, Lokananta harus lebih serius mengembangkan potensi-potensi yang ada. Promosi yang baik juga menjadi faktor penting dalam bangkitnya Lokananta. Harapan untuk menjadikan Lokananta sebagai ”kotak budaya” yang dikenal dan bermanfaat bagi masyarakat semoga tak menjadi impian kosong semata.
=hudzaifah+
tulisan ini telah di terbitkan di majalah lpm kentingan uns edisi ke-17 tahun 2010 pada rubrik bentara
Bangunan tersebut dulunya bernama Pabrik Piringan Hitam Lokananta, yang dioptimalkan sebagai Pabrik Piringan Hitam Jawatan Radio Kementerian Republik Indonesia. Berdiri pada tanggal 29 Oktober 1956 dan diresmikan oleh Menteri Penerangan R.I. kala itu, Soedibyo. Selang lima tahun, pemerintah mengubah status Lokananta menjadi Perusahaan Negara (PN). Seiring tuntutan zaman, tahun 1993 Lokananta pun beralih menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Namun karena kondisi perusahaan yang terus terpuruk, pemerintah pun melikuidasinya pada tahun 2001. Setelah keputusan tersebut, status perusahaan rekaman musik pemerintah yang pertama ini berubah menjadi Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (Perum PNRI) Cabang Surakarta hingga sekarang.
Orientasi kerja Lokananta terus mengalami penyesuaian seiring dengan pergantian generasi pemimpinnya. Pada awalnya, Lokananta merekam dan memproduksi piringan hitam. Dalam sejarahnya, Lokananta erat hubungannya dengan RRI. Dikarenakan Lokananta berdiri atas prakarsa Direktur RRI Jakarta yang pernah menjadi kepala RRI Surakarta. Tujuan pendirian Lokananta waktu itu untuk memenuhi kebutuhan bahan siaran RRI di seluruh Indonesia. Setelah menjadi Perusahaan Negara, tugas Lokananta adalah menggali, membina, melestarikan, dan menyebarluaskan kesenian dan kebudayaan nasional. Namun pada tahun 1972, Lokananta mulai berhenti memproduksi piringan hitam dan digantikan dengan kaset.
Diangkatnya Gus Dur sebagai Presiden Republik Indonesia pada tahun 1999 yang melikuidasi Departemen Penerangan, berbuah ketidakjelasan status Lokananta. Kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap jumlah pegawai yang awalnya 80-an hingga sekarang hanya tersisa 21 pegawai. "Kebanyakan dari mereka kembali ke RRI atau instansi awal,” jelas H Pendi Heryadi, pimpinan Lokananta sekarang.
Koleksi
Nama Lokananta memang identik dengan berbagai koleksi yang berhubungan dengan musik. Tempat ini pun memiliki ruang-ruang khusus yang menyimpan banyak aset kebudayaan. Di salah satu ruang gedung, terdapat tempat penyimpanan master-master lagu kebudayaan, gending-gending, dan pidato kenegaraan pada masa Bung Karno. Kesemuanya tersusun rapi dalam beberapa almari dengan kejelasan tanggal dan waktu produksi pada tiap-tiap almari. Piringan-piringan hitam pun ditempatkan pada ruangan tersendiri dan ditata dalam rak kayu berjajar. Diletakkan pula bubuk kopi di setiap tengah rak untuk perawatan sampul-sampul piringan hitam yang terbuat dari kertas.
Tidak jauh dari ruang penyimpanan piringan hitam, terdapat museum mini. Di dalamnya tersimpan banyak memorabilia antik seperti mesin putar piringan hitam tahun 1970, equalizer tahun 1960, reverberation tahun 1960, alat ukur osciloscape tahun 1960, mixer audio tahun 1960, echo amplifier tahun 1960, mesin pemotong pita, hingga pengganda kaset tahun 1960. Lirik lagu Indonesia Raya dalam tiga versi yang berbeda, jenis model dan bahan piringan hitam, produk-produk Lokananta dan beberapa microphone untuk rekaman jaman kejayaan Lokananta dahulu juga masih tersimpan rapi di sini.
Terdapat pula sebuah studio rekaman yang terletak di utara gedung kantor. Studio ini adalah studio ketiga yang dimiliki oleh Lokananta. Studio yang pertama adalah studio tempat rekaman lagu Bengawan Solo oleh alm.Gesang, terletak di selatan pintu masuk gedung kantor. Dan studio kedua terletak di timur studio ketiga. Akan tetapi, yang masih berfungsi sekarang hanyalah studio ketiga. Studio pertama sudah menjadi ruang penyimpanan arsip-arsip penting kantor, dan studio kedua rencananya akan difungsikan kembali untuk studio musik. Di dalam studio ketiga atau studio rekaman utama sekarang, masih tersimpan seperangkat gamelan yang mengilhami nama Lokananta, Gamelan Lokananta. Gamelan ini konon dapat berbunyi sendiri tanpa penabuh.
Perkembangan Lokananta
Sebelum Dinas Penerangan dilikuidasi, mesin-mesin pembuat piringan hitam Lokananta masih ada. Namun setelah itu, keberadaannya malah berangsur-angsur tiada. Praduga yang paling besar adalah akibat tidak adanya jaminan kesejahteraan karyawan Lokananta di era tersebut. Hal ini berdampak kepada kebijakan area Lokananta sekarang yang tidak sesuai dengan tujuan awal didirikannya. Akhir-akhir ini, Lokananta memang getol untuk melakukan alih fungsi lahan. Pengalih fungsian lahan Lokananta sejauh ini berupa lapangan futsal, penyewaan Kantor Pos, dan penyewaan gudang kertas dan kardus.
Tidak menutup kemungkinan jumlah alih fungsi lahan ini bakal bertambah seiring dengan ijin dari pihak PNRI Pusat. Dengan pemasukan dari pengalih fungsian lahan ini, keberlangsungan hidup Lokananta berikut para karyawannya dapat terjaga sampai sekarang. Perlu diketahui, sumber dana operasi Lokananta sebelumnya hanya berasal dari produksi ulang rekaman lama dalam bentuk kaset dan VCD, serta jasa rekaman yang tidak tentu waktunya.
Masalah pendanaan merupakan masalah yang selama enam tahun terakhir menjadi momok Lokananta. Setiap kebijakan yang diambil oleh pimpinan Lokananta bukan merupakan sebuah kebijakan yang gampang untuk direalisasikan, harus dengan persetujuan Perum PNRI Pusat mengingat Lokananta berada dibawah Perum PNRI. Sederhananya, bahwa setiap pimpinan Lokananta hanya bertugas untuk menjaga Lokananta. Kewenangan pimpinan Lokananta merupakan keberanian pimpinan dalam kebijakanya untuk Lokananta. Seperti halnya pengalih fungsian gudang untuk lapangan futsal. Karena dampaknya bagus dan memberikan kontribusi luar biasa kepada Lokananta, maka pimpinan pusat pun mengacungi jempol. Akan tetapi, jika ternyata kebijakan pimpinan Lokananta membuat Lokananta merugi, maka pimpinan pusat siap meminta pertanggung jawaban atas keberanian kebijakan tersebut.
Sementara itu, tahun ini Lokananta tengah merilis studio musik rekaman kecil untuk band-band indie. Penggarapanya sudah hampir selesai. Lokananta memang berusaha mempopulerkan diri kepada masyarakat muda Kota Solo, dan inilah salah satu langkahnya. Lokananta juga mempunyai sekolah musik walaupun belum maksimal penggarapannya. Sekolah musik sekarang sementara hanya untuk olah vokal. Meskipun demikian, perangkat musik lainnya seperti drum, gitar, dan bas telah tersedia.
Selain kemegahan bangunan di dalamnya, studio Lokananta juga terkenal dengan kualitas rekaman yang menjanjikan. “Tahun lalu puas, operator bekerja sama dengan baik, hasil oke,” papar Rizka Dwipayani Setiyakso, SE, Msi, Kepala Sekolah Play Group dan TK Al-Qur’an Terpadu Bintangku Surakarta. Sudah dua tahun Rizka rekaman untuk kenang-kenangan kelulusan. Rizka berharap tahun depan dapat rekaman kembali di Lokananta. Ia juga menghimbau agar setiap orang melihat Lokananta bukan dari luarnya saja. Menurutnya, banyak potensi terpendam yang dimiliki Lokananta yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Lokananta bisa dikatakan sedang bangkit dari sebuah mati suri. Berusaha terus eksis dengan berbagai halangan dan rintangan. Tentu hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh pihak Lokananta sendiri. Bapak H. Pendi Heryadi menyebut masa sekarang ini sebagai masa–masa konsolidasi Lokananta. ”Pihak Lokananta berkonsolidasi dengan berbagai pihak baik dari pemerintah maupun investor-investor swasta yang peduli terhadap budaya bangsa untuk menggalang dukungan terutama dukungan materi. Dukungan semua lapisan masyarakat pun juga diperlukan untuk bangunnya Lokananta dari mati suri. Inilah momentum yang tepat untuk kebangkitan Lokananta,” tandasnya lebih lanjut.
Lokananta sebagai Kotak Budaya
Boleh disebut, Lokananta adalah bahan siap dan instan yang potensial bagi kelengkapan budaya kota Solo. Namun kenyataannya sekarang, Lokananta seolah-olah menjadi dokumen yang mati. Ini berawal dari Lokananta yang tidak bisa bersaing ketika piringan hitam tergeser oleh kaset pita. Pengamat Sejarah dari UNS, Drs. Soedarmono SU., berpendapat bahwa Lokananta akan tetap mati suri jika tidak ada ide kreatif yang penuh dengan gebrakan. Misalnya menjual piringan hitam kecil dengan mesin pemutar pringan hitam layaknya pemutar CD mini era sekarang, yang mudah dibawa kemana pun dan praktis. Tentu siapa yang tak rindu dengan piringan hitam? Jika sebelumnya bisa mempelopori piringan hitam, mengapa Lokananta tidak bisa menjadi pelopor untuk industri kaset pita dan CD? Padahal industri rekaman merupakan pendokumentasian layaknya arsip nasional. ”Mentalitas dagang Lokananta tidak punya, manajemen tolol, perusahaan negara dibesar-besarkan,” kritiknya menyinggung kondisi Lokananta sekarang.
Di sisi lain, Waldjinah, penyanyi gending Jawa dan keroncong yang memiliki suara merdu nan-empuk, berharap agar Lokananta akan selamanya ada. Tidak hanya sekali beliau rekaman di Lokananta, bahkan puluhan suara emasnya terekam di Lokananta. Beliau pun merasa bangga telah dibesarkan oleh Lokananta. ”Kalau bisa setiap orang yang pernah rekaman di Lokananta merasa bangga pernah rekaman di Lokananta,” papar Ibu Waldjinah.
Dengan segala pro dan kontra yang menyertai, tak dapat ditampik bahwa Lokananta mempunyai banyak PR besar. Sebagai pelopor industri rekaman di tanah air, sudah selayaknya Lokananta lebih dikenal luas di tengah masyarakat. Untuk ke depannya, Lokananta harus lebih serius mengembangkan potensi-potensi yang ada. Promosi yang baik juga menjadi faktor penting dalam bangkitnya Lokananta. Harapan untuk menjadikan Lokananta sebagai ”kotak budaya” yang dikenal dan bermanfaat bagi masyarakat semoga tak menjadi impian kosong semata.
=hudzaifah+
tulisan ini telah di terbitkan di majalah lpm kentingan uns edisi ke-17 tahun 2010 pada rubrik bentara
Senin, 11 Oktober 2010
Mainan Yang Terlupakan Dan Tetap Eksis
Mainan adalah suatu benda atau barang yang bisa memuaskan nafsu bermain anak-anak pada umumnya. Bahkan tidak hanya usia anak-anak yang menyukai mainan. Remaja, orang tua, hingga lapisan lansia menyukai mainan. Dari yang berwujut benda fisik dan nyata ataupun yang bersifat maya. Semua mainan memberikan rasa kesenangan yang tanpa bisa diprediksi batas kepuasan yang diberikanya.
Di dalam istilah bahasa jawa dikenal dengan kata dolanan, sekarang lebih familiar dengan kata game. Dolanan sekarang dianggap sebagai sebuah kegiatan menyenangkan yang primitif, tidak maju, ndeso, dan katrok. Lebih gaul jika dengan mengatakanya dengan sebutan game. Tapi pada dasarnya tetap saja mainan, sesuatu yang bisa dimainkan dan memberikan kesenangan.
Sudah selazimnya, mainan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi dan informasi. Dahulu permainan seperti dakon, kapal-kapalan minyak sangat digemari anak-anak. Kemudian permainan orang-orangan dari kertas yang dimainkan layaknya sebuah keluarga, atau orang-orangan dari plastik bertema tokoh pahlawan atau superhero. Tapi sekarang, anak-anak cenderung lebih senang memainkan sesuatu di dalam layar datar dengan pengendali berentetan huruf, angka, dan simbol-simbol khusus yang terkemas dalam keyboard dan benda sebentuk telapak tangan untuk mengarahkan, katakanlah sebuah mouse. The Simp misalnya, telah menghipnotis secara halus seorang hingga lupa akan segala aktifitas pokoknya. Waktu, tugas sekolah, bahkan makan. Tentu cara memainkan maianan era sekarang berbeda dengan mainan terdahulu.
Kemeriahan dunia modern lama-kelamaan mengikis bahkan memendam sedikit demi sedikit ingatan kita kepada mainan-mainan terdahulu. Kita sudah mengganggap mainan terdahulu dengan istilah yang memojokkan kepada hal yang bersifat primitif dengan sebutan tradisional. Tradisional merujuk kepada proses yang lama, bertele-tele dan cocok untuk generasi tua saja. Generasi tua yang masih melekat kepadanya kekolotan akan tradisi dan harus dilakukan dengan perlahan dan dengan penuh kesabaran. Kemodernan memeberikan kepraktisan, cepat, dan sebenarnya lebih kepada manfaat efektif dan efisien. Maian sekarang lebih cocok dikatakan sebagai mesin. Karena mesin adalah segala sesuatu yang dapat mempermudah kerja manuasia. Mainan sebagai mesin pemuas kesenangan, mesin pelampiasan kesalahan dan masalah, pendobrak kreativitas atau kekonyolan, pendidikan atau bahkan penyesatan, penghabisan waktu dan biaya, juga sebagai penghasilan baru. Mesin-mesin mainan memberikan berbagai tantangan dan kesenangan yang berbeda dan lebih lama dari mainan terdahulu.
Tapi tidak menjadi hal yang seratus persen benar, permainan jaman dahulu memberikan rasa bosan yang cepat. Terbukti dengan adanya pedagang maian jaman dahulu yang hingga sekarang masih saja mngais rejeki dengan menjual mainan-maian jaman dahulu pada momen-momen khusus, seperti pasar malam di Alun-alun Utara Keratin Kasunanan Surakarta ketika sekaten tiba. Mereka tidak merasa jera menjual maian- mainan jaman dahulu yang telah kita pojokkan kepada keprimitifan. Terjual habis atau tidak, mereka akan berjualan di sekaten tahun depan. Mainan-mainan yang terjualpun tidak menjadi mainan yang basi, dan kembali terlupakan ketika sekaten selesai.
Sayang, mainan itu terlupakan kembali. Jarang ada toko mainan yang mengingatkan kita akan mainan terdahulu. Yang ada hanyalah mesin-mesin mainan. Tidak susah menemukan mesin-mesin mainan di hutan keramaian kemodernan. Di supermarket, pasar, gamezone, toko mainan, rental, semua terdapat mesin-mesin mainan. Mesin-mesin mainan dipasarkan lewat online, dinikmati lewat online-pun bisa. Sedangkan mainan terdahulu, ditemukan di toko mainan-pun jarang yang menyediakan, apalagi dipasarkan secara online. Bagaimana kita bisa mengingat mainan-maian jaman dahulu? Kalau tidak ada sekaten, yang di dalamnya masih ada pedagang-pedagang yang tidak mau jera menjual mainanya. Jika hewan dapat punah, apakah mainan juga dapat punah? Lantas bagaimanakah kepunahanya? Hanya kata tradisional yang menyelematkan mainan tersebut untuk dapat eksis hingga sekarang. Yang sebenarnya dengan perlahan memojokkan mainan terdahulu untuk perlahan kita lupakan.
hudzaifah
Minggu, 10 Oktober 2010
status FB
otak ku tak ber AC
tak kudapati kesejukan didalamnya
memang tak terbingkai
tak semilir angin yang ada
hampa juga tidak, sesak jelas
...dan panas
kau sekali lagi membuatku terpesona, setelah itu muak.
dari perjalananku hingga kini
kembali ke awal dimana aku ada
titik awal perjalanan ku ini, rumah
menjadi awal kelahiran kembali
Diam dalam kediaman
gelap sunyi teman sejati
bungkam dan hanya berusaha menyimak dengan kesemua indra.
Smaksimal mungkin.
apa aku tampak seperti orang yang mudah menyerah?
apa aku tampak orang yang selalu patah semangatz?
apa aku tampak seperti orang yang minta dikasihani?
lupakan pertanyaanmu, dan ingatlah
aku adalah seorang yang menyembunyikan dirinya.
ingatlah itu,
dan bacalah sejarah namaku tertulis dalam buku-buku kun...o
hehe lucu juga status-statusku
tak kudapati kesejukan didalamnya
memang tak terbingkai
tak semilir angin yang ada
hampa juga tidak, sesak jelas
...dan panas
kau sekali lagi membuatku terpesona, setelah itu muak.
dari perjalananku hingga kini
kembali ke awal dimana aku ada
titik awal perjalanan ku ini, rumah
menjadi awal kelahiran kembali
Diam dalam kediaman
gelap sunyi teman sejati
bungkam dan hanya berusaha menyimak dengan kesemua indra.
Smaksimal mungkin.
apa aku tampak seperti orang yang mudah menyerah?
apa aku tampak orang yang selalu patah semangatz?
apa aku tampak seperti orang yang minta dikasihani?
lupakan pertanyaanmu, dan ingatlah
aku adalah seorang yang menyembunyikan dirinya.
ingatlah itu,
dan bacalah sejarah namaku tertulis dalam buku-buku kun...o
hehe lucu juga status-statusku
Senin, 30 Agustus 2010
hidup berpasangan

hehehehehe
aku ada bingkisan nich, buat kawan kawanku , mungkin sebagian inti sudah pernah membaca, tapi nggak apa-apa, dibaca saja. atau mungkin seperti biasa tidak sependapat dan menyanggah. baguslah.
begini judulnya : analisis hidup berpasangan
Semua berawal dari ketidaktahuan, dan dengan membaca situasi kita menjadi tahu akan informasi yang terejawantahkan di sekeliling kita. Salah satunya adalah rahasia kosmik penciptaan manusia, mengapa manusia diciptakan saling berpasangan. Ini hanyalah hasil pemikiran saya pribadi yang melibatkan lingkungan sekeliling saya hidup. Baik dari benda yang diberkahi ruh, ataupun tidak sama sekali.
Manusia diciptakan saling berpasangan oleh sang pencipta ada berbagai macam maksut dan tujuan Ilahi. Pada awalnya manusia diberikan sebuah hati, yang bertujuan agar manusia dapat merasakan. Inilah indra ke enam yang manusia tidak pernah sadar akan keberadaanya. Indra ini sangatlah peka terhadap berbagai macam rangsangan dari luar dan dari dalam. Semua rasa dapat berinteraksi di tempat ini. Suka, benci, dendam, sayang, puas, ragu, sakit, cinta, bahagia, dan lain sebagainya. Kesemua hal itu dapat digolongkan menjadi dua tipe, yaitu perasaan positif dan perasaan negative. Dimana dari hal inilah masa depan generasi berkembang. Jika perasaan positif yang dibawa dan dipelihara, maka akan membawa kepada sebuah kejayaan, begitu pula sebaliknya perasaan negative yang terbawa maka akan mengarahkan kepada kehancuran kosmik.
Suka adalah awal dari sebuah perasaan yang membawa manusia hidup berpasangan, dimana ada yang mengatakan bahwa suka adalah adalah keegoisan diri sendiri dan suka memiliki banyak tingkatan dan prioritas. Orang yang suka masih sangat labil, dan sangat berambisi untuk mencapai kepuasan yang diharapkanya. Karena secara normal manusia akan menyukai manusia lainya, baik sesama jenis ataupun berlainan jenis. kewajaran jika manusia menyukai manusia yang berlainan jenis untuk melestarikan populasinya.
Sedikit demi sedikit manuasia akan menjadi sayang terhadap apa yang disukainya. Ini adalah perasaan tingkat lanjut yang akan dialami manusia jika terus menerus suka. Manusia akan berusaha memberi perlindungan dan menerima berbagai kemungkinan yang akan dihadapi terhadap pasanganya agar dapat berbahagia, bersama ataupun tidak. Sedikit lebih ekstrim jika mengatakan tidak, hal ini dapat saja terjadi, misalnya orang tua yang sangat menyayangi buah hatinya, dia merawat membesarkan hingga menuju kedewasaan bagi si anak. Alhasil si anak dibawa atau membawa pergi manusia lain, dan orang tua akan tetap menyayangi buah hatinya.
Tibalah pada sebuah kata cinta, cinta memang sangat membingungkan bagi yang masih membingungkanya. Saya tidak akan memberikan penjelasan yang nantinya membuat kebingungan. Energy terbersebar di alam raya, seperti layaknya hukum kekekalan energi, yaitu energy tidak dapat dimusnahkan dan energy tidak dapat diciptakan oleh mahluk. Cinta merupakan sebuah peralihan energy positif dalam diri yang diperoleh dari lingkungan disekitarnya. Pasangan hiduplah yang menarik energy itu dengan berbagai kemungkunan yang dapat membuatnya terjadi. Berkat cinta dunia dapat terasa damai, aman,dan nyaman, kemudian menuju sebuah kebahagiaan. Sebenarnya ada berbagai macam devinisi tentang cinta, akan tetapi perbuatan akibat cinta akan tetap sama yaitu tidak akan membawa kepada luka bagaimanapun keadaanya.
Sering kita menyaksikan berita di berbagai media, banyak kasus perceraian dalam ikatan rumah tangga, yang paling mendominasi adalah para entertainment. Atau mungkin taman dekat-dekat kita yang sering putus berpacaran. Pada awalnya semuanya berharap akan sebuah cinta abadi dan hidup bersama hingga akhir hayat. Bahagia yang mereka cari kadang terbuntukan oleh hal-hal sepele yang menimbulkan saling ketidakpercayaan. Kemudian pasrah dengan kata takdir. Memang ketetapan Sang pencipta akan takdir benar adanya, takdir dimasa terdahulu, sekarang dan dimasa depan. Dan Sang pencipta memberi kelonggaran untuk merubah takdir setiap mahluknya. Kemudian istilah keajaiban datang. Keajaiban dapat terjadi jika kita percaya akan keajaiban. Manusia yang berpasangan dengan manusia lainya atas dasar kepercayaan akan cinta (peralihan energy) akan sangat susah sekali dipisahkan kecuali dengan fitnah. Karena hal yang paling kejam di dunia ini adalah fitnah.
Pegang erat pasanganmu, jangan biarkan lepas sedikitpun, hehehehehe dan berilah sedikit ruang agar dia merasa bergerak dengan bebas menuju asa dan cita-citanya.
hehehehehe
jadi ingin tertawa nich kawan. good luck*
Rabu, 25 Agustus 2010
ucapku selamat yang mungkin telat kawan
waktu itu aku masih tertidur pulas. sebelumnya aku pulang kerumah jam dua pagi, udara masih terasa dingin ditambah tetesan sisa-sisa air hujan dari dedaunan yang jatuh mengenai tubuhku. menambah dinginya pagi itu. pintu rumahpun tanpa harus mengetuknya sudah terbuka, segera aku memasuki rumah dan membantu orang tuaku mempersiapkan menu untuk sahur. memilih sayur dan selanjutnya aku makan sahur awal waktu. rasa kenyang kudapatkan, dan kudapatkan bonus dari rasa kenyang itu adalah sebuah rasa kantuk yang berat. aku memang belum tidur. tanpa berfikir panjang, kupejamkan mataku perlahan... ketika hampir tidur, ku teringat nanti aku harus ke sekolah jam 7 pagi. aku hahrus mengisi kelas dengan pelajaran motor bakar. saat ini aku sedang PPL di SMK . dengan mata berat aku mengatur alarm dalam hp ku jam 5. dan selanjutnya aku tertidur...
mungkin aku bukan dari golongan orang yang beruntung, dikala asma Allah di agung-angungkan dengan nada keras dan tinggi melewati corong2 masjid, telingaku terisi penuh oleh air kencing anak-anak setan. aku tidak mendengarkan seruan itu. oh tuhan ampunilah dosaku. dan hingga alarm hp berbunyipun tak dapat mengusik kedua gendang telingaku.
hanya adik ku yang merasa terganggu dengan alrm itu, dan karena merasa risih dia matikan. tidak tahu kenapa tepatnya jam enam pagi, ketika ayam-ayam tetangga selesai berkokok bersahutan, alarm hp ku menjerit-jerit lagi. meminta untuk di perhatikan lagi. kembali adik ku yang mematikan, dan aku masih tidur pulas. sontak aku kaget dengan kaki kecil lembut, tapi kuat yang menusuk di leherku.
arrrrgggh.....
kumulai membuka mataku, sedikit kabur... dan kemudian jelas. sosok wanita yang tidak asing lagi bagiku, terlihat dari wajahnya seperti sedang menginjak binatang yang dibencinya, geram, kejam, dan mengerikan.
"emmmbokkkk.... ampun... aku meh tangi". teriak ku kala itu....
segera kuambil air wudhu dan sholat.....
malangnya nasibku padahal ramadhan.... kalau berniat berbuat baik saja dikalikan sepuluh, apalagi berbuat baik. berbuat buruk pun sudah ada niat dapat pahala mungkin, dikalikan sepuluh lagi. hehehe
salamah, adik perempuanku, sudah berias dan siap berangkat ke sekolah. . ketika akan pergi dia menghampiriku di kamar, dan berkata dengan logatnya yang mirip denganku. "mas tadi ada alarm ulang tahun lho.... di hp mu."
"siapa?", tanyaku.
"nggak tau, tadi ada... dan kumatikan, berisik".
kemudian tanganku diraihnya untuk berjabat tangan mencium tanganku, mungkin ini adalah tanda minta restu ku berangkat belajar di sekolah.
mungkin aku memang kakak yang payah...... kalah dengan adik sendiri. si adik sudah berangkat, si kakak mandipun belum, malahan baru selesai sholat subuh... laknat sekali perbuatanku...
mungkin waktu itu yang harus aku lakukan adalah bergegas mandi, tapi dalam hatiku masih ada rasa penasaran. siapa yang ulang tahun?
ku cek dalam hp, nggak ada tuh yang ulang tahun, teman, saudara siapa....?
tapi alrm tadi kata salamah berbunyi dua kali...
ah mungkin salamah bohong......
akhirnya aku melupakan hal itu. dan mandi...
dan mungkin saat ini aku terlambat berucap selamat ulang tahun kepadamu teman, aku baru nyadar bahwa kau yang ulang tahun....
aku tahu lewat fb pula....
selamat ya... bagaimana sensasinya di usia sekarang? semoga berkah ramadhan menjadi hadiah yang menarik bagimu... mungkin sedikit cerita kebiasaan buruk ku akibat selalu pulang larut pagi dapat menjadi tambahan cerita buatmu yang tidak boleh di tiru....
hehehehe salam
mungkin aku bukan dari golongan orang yang beruntung, dikala asma Allah di agung-angungkan dengan nada keras dan tinggi melewati corong2 masjid, telingaku terisi penuh oleh air kencing anak-anak setan. aku tidak mendengarkan seruan itu. oh tuhan ampunilah dosaku. dan hingga alarm hp berbunyipun tak dapat mengusik kedua gendang telingaku.
hanya adik ku yang merasa terganggu dengan alrm itu, dan karena merasa risih dia matikan. tidak tahu kenapa tepatnya jam enam pagi, ketika ayam-ayam tetangga selesai berkokok bersahutan, alarm hp ku menjerit-jerit lagi. meminta untuk di perhatikan lagi. kembali adik ku yang mematikan, dan aku masih tidur pulas. sontak aku kaget dengan kaki kecil lembut, tapi kuat yang menusuk di leherku.
arrrrgggh.....
kumulai membuka mataku, sedikit kabur... dan kemudian jelas. sosok wanita yang tidak asing lagi bagiku, terlihat dari wajahnya seperti sedang menginjak binatang yang dibencinya, geram, kejam, dan mengerikan.
"emmmbokkkk.... ampun... aku meh tangi". teriak ku kala itu....
segera kuambil air wudhu dan sholat.....
malangnya nasibku padahal ramadhan.... kalau berniat berbuat baik saja dikalikan sepuluh, apalagi berbuat baik. berbuat buruk pun sudah ada niat dapat pahala mungkin, dikalikan sepuluh lagi. hehehe
salamah, adik perempuanku, sudah berias dan siap berangkat ke sekolah. . ketika akan pergi dia menghampiriku di kamar, dan berkata dengan logatnya yang mirip denganku. "mas tadi ada alarm ulang tahun lho.... di hp mu."
"siapa?", tanyaku.
"nggak tau, tadi ada... dan kumatikan, berisik".
kemudian tanganku diraihnya untuk berjabat tangan mencium tanganku, mungkin ini adalah tanda minta restu ku berangkat belajar di sekolah.
mungkin aku memang kakak yang payah...... kalah dengan adik sendiri. si adik sudah berangkat, si kakak mandipun belum, malahan baru selesai sholat subuh... laknat sekali perbuatanku...
mungkin waktu itu yang harus aku lakukan adalah bergegas mandi, tapi dalam hatiku masih ada rasa penasaran. siapa yang ulang tahun?
ku cek dalam hp, nggak ada tuh yang ulang tahun, teman, saudara siapa....?
tapi alrm tadi kata salamah berbunyi dua kali...
ah mungkin salamah bohong......
akhirnya aku melupakan hal itu. dan mandi...
dan mungkin saat ini aku terlambat berucap selamat ulang tahun kepadamu teman, aku baru nyadar bahwa kau yang ulang tahun....
aku tahu lewat fb pula....
selamat ya... bagaimana sensasinya di usia sekarang? semoga berkah ramadhan menjadi hadiah yang menarik bagimu... mungkin sedikit cerita kebiasaan buruk ku akibat selalu pulang larut pagi dapat menjadi tambahan cerita buatmu yang tidak boleh di tiru....
hehehehe salam
Rabu, 26 Mei 2010
tugas resume seminar nasional ptk mei 2010.
Gelar Guru Bukan Keharusan, Karakter Guru Keharusan
“Sebuah profesi yang maha karya adalah guru. akan tetapi gelar saja tidak cukup, karakter seorang gurupun juga harus dimiliki”
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang seperti menguntai benang kusut. Tak jelas nanti ujungnya. Dari awal terlihat dan seterusnya ketidak jelasan, dan realisasinya adalah kekusutan benang itu. Tidak banyak yang terealisasikan, hanya sebatas wacana pendidikan para kaum terdidik. Ada wacana akan terealisasikan, jika memang disetujui oleh orang yang berhak menyetujui semua kebijakan di negara ini.
Teringat cerita dari negri sakura paska kalah melawan sekutu sebelum menyerah, pertanyaan utama sang kaisar pada saat itu, ”berapa banyak guru kita yang masih hidup?”. bukan sebuah keanehan di dalam pertanyaan tersebut, melainkan penuh makna visioner. Bangsa yang maju adalah bangsa yang unggul dalam dunia pendidikan. Begitulah pepatah berbicara. Maka ilmu menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya, walaupun dalam wujud yang abstrak sekalipun. Siapakah orang yang paling berperan dalam proses pendidikan? Salah satunya telah terbicarakan di atas, yaitu guru.
Pemahaman sederhana mengenai seorang guru dalam falsafah jawa adalah “digugu lan ditiru”. Yang maksutnya adalah menjadi touladan dan panutan. Secara rasional bahwa guru harus menjadi seorang yang mampu mempertanggungkan moral pendidikan. Karena bila guru kencing berdiri maka murit kencing berlari.
Oleh karena itu guru harus memiliki sebuah karakter yang kuat. Karakter dalam artian memiliki sebuah kecakapan dan menguasai kompetensi dalam bidangnya. Juga mampu memfasilitasi, membimbing peserta didik agar dapat menjadikan bangsa yang cerdas, tidak dibodohi oleh bangsa lain.
Pendidikan adalah awal mula terbentuknya sebuah kebudayaan. negara kita kaya akan kebudayaan dan masih sedikit yang tertuliskan dengan patenan. Sudah banyak kebudayaan kita di klaim oleh negara lain. Hal ini karena pendidikan kita masih rendah. Mengutip iklan layanan televisi, ” aku ingin sekolah yang tinggi, agar dapat membantu ibu. Tapi, membaca saja aku susah”. Membaca memang sebuah pintu pertama dalam meraih ilmu. Namun bagaiman minat baca masyarakat Indonesia? Janganlah diperbincangkan terlalu lama, katakanlah bawasanya masyarakat di negara kita masih kalah dengan negara yang mengeklaim kebudayaan kita.
Menumbuhkan kebudayan belajar secara kondusif, seperti belajar reguler di kampus, dalam grub diskusi, ataupun dalam belajar kelompok, adalah gampang-gampang susah. Mudah jika niatan dalam diri setiap individu pelajar mau dan mau. ”saya butuh orang yang mau, bukan orang yang mampu, idealnya orang itu mau dan mampu” papar Prof. Kumaidi, Ph.D ”Guru Besar Fakultas Psikologi UMS, yang juga alumni PTM FKIP UNS”.
Realita yang ada adalah tidak mau dan ogah-ogahan. Bagaimana negara ini akan menjadi negara yang maju? Berkembang terus adanya. Tugas yang diberikan pengajar katakanlah guru, karena teknologi-teknologi digital yang berkembang pesat, sehingga begitu mudahnya di copy dan di paste oleh peserta didiknya. Dan terkadang guru memberikan toleransi. Esensi dari tugas adalah sebuah proses pemahaman lanjutan yang ditujukan kepada peserta didik baik mandiri ataupun kelompok. Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika tugas copy dan paste, asalkan peserta didiknya telah paham mendalam dengan materi yang diberikan. Tugaspun menjadi fortofolio pengajaran, dan misi gurupun selesai.
Proses copy dan paste memang tidak mendidik, dikarenakan akan membuat peserta didik bergantung kepada teman sekelas yang diandalkanya. Kembali kepada maksut pemberian tugas, jika memang telah mendapatkan maksut pemberianya, maka seperti di atas, jadilah fortofolio pengajaran. Jika memang proses yang dinilai dan hasil akhir yang menentukan, maka copy paste dengan pemahaman dan yang dicopy paste boleh dikatakan lolos kompetensi seharusnya.
Guru yang bijak dan berkarakter adalah guru yang bisa memahami kondisi siswa. Baik secara kognitif, psikologi, dan moral. Jika memang terpenuhi, berkemungkinan besar negara kita menjadi negara maju, dengan sumber daya manusia-manusia yang terdidik.
Hudzaifah
(K2507020)
“Sebuah profesi yang maha karya adalah guru. akan tetapi gelar saja tidak cukup, karakter seorang gurupun juga harus dimiliki”
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia memang seperti menguntai benang kusut. Tak jelas nanti ujungnya. Dari awal terlihat dan seterusnya ketidak jelasan, dan realisasinya adalah kekusutan benang itu. Tidak banyak yang terealisasikan, hanya sebatas wacana pendidikan para kaum terdidik. Ada wacana akan terealisasikan, jika memang disetujui oleh orang yang berhak menyetujui semua kebijakan di negara ini.
Teringat cerita dari negri sakura paska kalah melawan sekutu sebelum menyerah, pertanyaan utama sang kaisar pada saat itu, ”berapa banyak guru kita yang masih hidup?”. bukan sebuah keanehan di dalam pertanyaan tersebut, melainkan penuh makna visioner. Bangsa yang maju adalah bangsa yang unggul dalam dunia pendidikan. Begitulah pepatah berbicara. Maka ilmu menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya, walaupun dalam wujud yang abstrak sekalipun. Siapakah orang yang paling berperan dalam proses pendidikan? Salah satunya telah terbicarakan di atas, yaitu guru.
Pemahaman sederhana mengenai seorang guru dalam falsafah jawa adalah “digugu lan ditiru”. Yang maksutnya adalah menjadi touladan dan panutan. Secara rasional bahwa guru harus menjadi seorang yang mampu mempertanggungkan moral pendidikan. Karena bila guru kencing berdiri maka murit kencing berlari.
Oleh karena itu guru harus memiliki sebuah karakter yang kuat. Karakter dalam artian memiliki sebuah kecakapan dan menguasai kompetensi dalam bidangnya. Juga mampu memfasilitasi, membimbing peserta didik agar dapat menjadikan bangsa yang cerdas, tidak dibodohi oleh bangsa lain.
Pendidikan adalah awal mula terbentuknya sebuah kebudayaan. negara kita kaya akan kebudayaan dan masih sedikit yang tertuliskan dengan patenan. Sudah banyak kebudayaan kita di klaim oleh negara lain. Hal ini karena pendidikan kita masih rendah. Mengutip iklan layanan televisi, ” aku ingin sekolah yang tinggi, agar dapat membantu ibu. Tapi, membaca saja aku susah”. Membaca memang sebuah pintu pertama dalam meraih ilmu. Namun bagaiman minat baca masyarakat Indonesia? Janganlah diperbincangkan terlalu lama, katakanlah bawasanya masyarakat di negara kita masih kalah dengan negara yang mengeklaim kebudayaan kita.
Menumbuhkan kebudayan belajar secara kondusif, seperti belajar reguler di kampus, dalam grub diskusi, ataupun dalam belajar kelompok, adalah gampang-gampang susah. Mudah jika niatan dalam diri setiap individu pelajar mau dan mau. ”saya butuh orang yang mau, bukan orang yang mampu, idealnya orang itu mau dan mampu” papar Prof. Kumaidi, Ph.D ”Guru Besar Fakultas Psikologi UMS, yang juga alumni PTM FKIP UNS”.
Realita yang ada adalah tidak mau dan ogah-ogahan. Bagaimana negara ini akan menjadi negara yang maju? Berkembang terus adanya. Tugas yang diberikan pengajar katakanlah guru, karena teknologi-teknologi digital yang berkembang pesat, sehingga begitu mudahnya di copy dan di paste oleh peserta didiknya. Dan terkadang guru memberikan toleransi. Esensi dari tugas adalah sebuah proses pemahaman lanjutan yang ditujukan kepada peserta didik baik mandiri ataupun kelompok. Sebenarnya tidak menjadi masalah ketika tugas copy dan paste, asalkan peserta didiknya telah paham mendalam dengan materi yang diberikan. Tugaspun menjadi fortofolio pengajaran, dan misi gurupun selesai.
Proses copy dan paste memang tidak mendidik, dikarenakan akan membuat peserta didik bergantung kepada teman sekelas yang diandalkanya. Kembali kepada maksut pemberian tugas, jika memang telah mendapatkan maksut pemberianya, maka seperti di atas, jadilah fortofolio pengajaran. Jika memang proses yang dinilai dan hasil akhir yang menentukan, maka copy paste dengan pemahaman dan yang dicopy paste boleh dikatakan lolos kompetensi seharusnya.
Guru yang bijak dan berkarakter adalah guru yang bisa memahami kondisi siswa. Baik secara kognitif, psikologi, dan moral. Jika memang terpenuhi, berkemungkinan besar negara kita menjadi negara maju, dengan sumber daya manusia-manusia yang terdidik.
Hudzaifah
(K2507020)
Langganan:
Postingan (Atom)